Arsip | Oktober, 2012

nama : andi muhammad adha, kelas : 1ka02, npm : 10112765

30 Okt

nama : andi muhammad adha, kelas : 1ka02, npm : 10112765

 

Dalam konteks demikian, kita mengharapkan lahirnya sosok pemimpin yang mampu menganalisa dan melakukan ‘sesuatu’ untuk menjawab kebutuhan konteks dan riil masyarakat.  Banyak hal yang bisa dijabarkan di sini. Namun dalam tulisan ini, penulis membatasinya pada kebutuhan NTT dan segenap warga NTT pada pemimpin yang peka pada kebutuhan masyarakat dalam budang pelestarian lingkungan hidup dan pemimpin yang mampu menjamin hak-hak masyarakat dalam bidang kesehatan.

Fakta Terprediksi

Fakta munculnya puluhan virus baru dalam beberapa dekade terakhir ini telah diprediksi sebelumnya. Adalah Rene Dubos, seorang ahli mikrobiologi yang telah memprediksi bahwa organisme hidup termasuk organisme pembawa  virus akan terus berkembang dan bermunculan. Alasannya, setiap organisme termasuk organisme pembawa virus hidup akan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Pendapatnya ini terbukti benar. Penyakit yang diakibatkan oleh vektor, misalnya, belum sepenuhnya dapat dihilangkan karena vektor  beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan perlakuan-perlakuan yang diberikan kepadanya. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jonatan Patz, salah penerima nobel perdamaian tahun 2007, yang fokus penelitiannya pada lingkungan dan penyakit. Sebagian besar artikel penelitiannya menyoroti tentang lingkungan dan kemungkinan meluasnya penyebaran penyakit-penyakit termasuk penyakit menular.  Bila ditarik benang merah dari setiap artikel penelitianya ditemukan bahwa akar persoalan munculnya dan meluasnya penyakit menular saat ini adalah kerusakan lingkungan. Alasannya, kerusakan lingkungan  akan mempengaruhi hidup organisme pembawa virus atau parasit yang kemudian disebarkan kepada manusia.

Dalam salah satu artikel penelitiannya, dia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan, perubahan iklim memperluas penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh vektor nyamuk termasuk malaria dan demam berdarah, dua penyakit yang selalu mengancam kehidupan masyarakat NTT. Kerusakan lingkungan yang dimaksud diantaranya perusakan hutan dan penggunaan lahan atau tanah dengan tidak tepat.

Bila kita teliti, pendapat dari Rene Dubos dan Jonatan Patz ini saling melengkapi. Bila organisme dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sebagaimana pendapat Dubos, maka  organisme hidup termasuk organisme pembawa virus dan parasit tetap dapat bertahan terhadap apapun yang berubah pada lingkungan termasuk rusaknya lingkungan. Terkait hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, ketika lingkungan berubah menjadi tempat ideal bagi organisme, maka adaptasi akan berhasil secara cepat dan organisme akan berkembang secara cepat. Kedua, bila lingkungan menjadi tidak ideal bagi pertumbuhan organisme, adaptasi organisme sangat lambat dan pertumbuhannya juga lambat. Bahkan, terkadang sebagian besar organisme gagal beradaptasi dan akhirnya tidak banyak yang bertahan hidup.  Pada kondisi yang lebih ekstrim organisme tersebut dapat punah.

Terkait dengan organisme pembawa virus dan parasit seperti nyamuk, kerusakan lingkungan mengakibatkan yang terjadi adalah kemungkinan pertama. Artinya, kerusakan lingkungan menjadikan lingkungan menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan vektor. Misalnya, penggundulan hutan yang berpengaruh pada kenaikan temperatur lokal yang  akhirnya menstimulasi  pertumbuhan nyamuk. Contoh lain, lingkungan yang kotor dan dipenuhi dengan sampah yang nantinya menjadi tempat tumbuh mikroorganisme pembawa bakteri penyakit yang kemudian terbawa oleh air hujan ke sumber air yang dipakai untuk konsumsi manusia. Akibatnya, penyakit yang diakibatkan oleh air juga bermunculan. 

Masih banyak lagi contoh kerusakan lingkungan lainnya yang mendorong penyebaran penyakit. Ini berarti bahwa kerusakan lingkungan justru akan membawa malapetaka bagi manusia khususnya dalam bidang kesehatan. 

Kita sedang mencari pemimpin provinsi ini lewat pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang akan berlangsung tak lama lagi. Sampai pada tahapan pemilihan gubernur yang sedang berlangsung saat ini, visi dan jabaran langkah strategis yang akan dilakukan bila nanti terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur nanti belum sepenuhnya dipaparkan kekhayalak umum.

 Tapi, belajar dari pemilihan Gubernur NTT periode lalu, kesehatan menjadi salah satu produk  yang dijual oleh para kandidat gubernur dan pasti masih akan menjadi produk unggulan untuk dijual kali ini sebab, kesehatan masih menjadi persoalan utama masyarakat. 

Konsep jualan produk kesehatan tersebut sederhana yakni kesehatan gratis atau biaya kesehatanterjangkau, suatu cara yang menyenangkan hati dan memanjakan rakyat.  Disatu sisi ada baiknya namun dilan pihak, konsep yang ditawarkan cenderung bukan pada pencegahan. Padahal, umum telah kita dengar, mencegah  lebih baik daripada mengobati.

Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan lingkungan. Lingkungan yang rusak mendorong terjadi dan merebaknya berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan masyarakat. Apalagi penyakit-penyakit tersebut telah endemik di wilayah provinsi ini, yang artinya akan menyebar secara cepat bila terjadi kerusakan lingkungan. 

OPINI :
Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin baru  Bumi Flobamora  yang peduli dengan lingkungan NTT. Pemimpin peduli lingkungan tidak serta merta diterjemahkan sebagai pemimpin yang tidak mengizinkan aktivitas pemanfaatan lingkungan dan alam. Tapi, yang dimaksudkan dengan pemimpin  peduli lingkungan adalah pemimpin yang mampu memperbaiki dan melestarikan lingkungan sehingga tidak menjadi rusak. 
Misalnya, dengan melakukan penghijauan di lahan-lahan kosong. Juga, pemimpin peduli lingkungan adalah pemimpin yang bijak memanfaatkan kekayaan lingkungan (alam) secara wajar untuk kesejahteraan rakyat namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Artinya, lingkungan dan kekayaan alam dapat dimanfaatkan secara bijak dan wajar untuk kesejahteraan rakyat dan aktivitas pemanfaatannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Potensi yang ada dalam lingkungan di NTT harus dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan masyarakat NTT.
Bila demikian yang terjadi, maka pada saat yang sama rakyat sejahtera, lingkungan tetap lestari dan akhirnya dapat  mencegah berkembangnya organisme pembawa virus penyakit yang akan mengancam kehidupan manusia.

nama : andi muhammad adha, kelas : 1ka02, npm : 10112765

30 Okt

nama : andi muhammad adha, kelas : 1ka02, npm : 10112765

Dalam konteks demikian, kita mengharapkan lahirnya sosok pemimpin yang mampu menganalisa dan melakukan ‘sesuatu’ untuk menjawab kebutuhan konteks dan riil masyarakat.  Banyak hal yang bisa dijabarkan di sini. Namun dalam tulisan ini, penulis membatasinya pada kebutuhan NTT dan segenap warga NTT pada pemimpin yang peka pada kebutuhan masyarakat dalam budang pelestarian lingkungan hidup dan pemimpin yang mampu menjamin hak-hak masyarakat dalam bidang kesehatan.

Fakta Terprediksi

Fakta munculnya puluhan virus baru dalam beberapa dekade terakhir ini telah diprediksi sebelumnya. Adalah Rene Dubos, seorang ahli mikrobiologi yang telah memprediksi bahwa organisme hidup termasuk organisme pembawa  virus akan terus berkembang dan bermunculan. Alasannya, setiap organisme termasuk organisme pembawa virus hidup akan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Pendapatnya ini terbukti benar. Penyakit yang diakibatkan oleh vektor, misalnya, belum sepenuhnya dapat dihilangkan karena vektor  beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan perlakuan-perlakuan yang diberikan kepadanya. 

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jonatan Patz, salah penerima nobel perdamaian tahun 2007, yang fokus penelitiannya pada lingkungan dan penyakit. Sebagian besar artikel penelitiannya menyoroti tentang lingkungan dan kemungkinan meluasnya penyebaran penyakit-penyakit termasuk penyakit menular.  Bila ditarik benang merah dari setiap artikel penelitianya ditemukan bahwa akar persoalan munculnya dan meluasnya penyakit menular saat ini adalah kerusakan lingkungan. Alasannya, kerusakan lingkungan  akan mempengaruhi hidup organisme pembawa virus atau parasit yang kemudian disebarkan kepada manusia.

Dalam salah satu artikel penelitiannya, dia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan, perubahan iklim memperluas penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh vektor nyamuk termasuk malaria dan demam berdarah, dua penyakit yang selalu mengancam kehidupan masyarakat NTT. Kerusakan lingkungan yang dimaksud diantaranya perusakan hutan dan penggunaan lahan atau tanah dengan tidak tepat.

Bila kita teliti, pendapat dari Rene Dubos dan Jonatan Patz ini saling melengkapi. Bila organisme dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sebagaimana pendapat Dubos, maka  organisme hidup termasuk organisme pembawa virus dan parasit tetap dapat bertahan terhadap apapun yang berubah pada lingkungan termasuk rusaknya lingkungan. Terkait hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, ketika lingkungan berubah menjadi tempat ideal bagi organisme, maka adaptasi akan berhasil secara cepat dan organisme akan berkembang secara cepat. Kedua, bila lingkungan menjadi tidak ideal bagi pertumbuhan organisme, adaptasi organisme sangat lambat dan pertumbuhannya juga lambat. Bahkan, terkadang sebagian besar organisme gagal beradaptasi dan akhirnya tidak banyak yang bertahan hidup.  Pada kondisi yang lebih ekstrim organisme tersebut dapat punah.

Terkait dengan organisme pembawa virus dan parasit seperti nyamuk, kerusakan lingkungan mengakibatkan yang terjadi adalah kemungkinan pertama. Artinya, kerusakan lingkungan menjadikan lingkungan menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan vektor. Misalnya, penggundulan hutan yang berpengaruh pada kenaikan temperatur lokal yang  akhirnya menstimulasi  pertumbuhan nyamuk. Contoh lain, lingkungan yang kotor dan dipenuhi dengan sampah yang nantinya menjadi tempat tumbuh mikroorganisme pembawa bakteri penyakit yang kemudian terbawa oleh air hujan ke sumber air yang dipakai untuk konsumsi manusia. Akibatnya, penyakit yang diakibatkan oleh air juga bermunculan. 

Masih banyak lagi contoh kerusakan lingkungan lainnya yang mendorong penyebaran penyakit. Ini berarti bahwa kerusakan lingkungan justru akan membawa malapetaka bagi manusia khususnya dalam bidang kesehatan. 

Kita sedang mencari pemimpin provinsi ini lewat pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang akan berlangsung tak lama lagi. Sampai pada tahapan pemilihan gubernur yang sedang berlangsung saat ini, visi dan jabaran langkah strategis yang akan dilakukan bila nanti terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur nanti belum sepenuhnya dipaparkan kekhayalak umum.

 Tapi, belajar dari pemilihan Gubernur NTT periode lalu, kesehatan menjadi salah satu produk  yang dijual oleh para kandidat gubernur dan pasti masih akan menjadi produk unggulan untuk dijual kali ini sebab, kesehatan masih menjadi persoalan utama masyarakat. 

Konsep jualan produk kesehatan tersebut sederhana yakni kesehatan gratis atau biaya kesehatanterjangkau, suatu cara yang menyenangkan hati dan memanjakan rakyat.  Disatu sisi ada baiknya namun dilan pihak, konsep yang ditawarkan cenderung bukan pada pencegahan. Padahal, umum telah kita dengar, mencegah  lebih baik daripada mengobati.

Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan lingkungan. Lingkungan yang rusak mendorong terjadi dan merebaknya berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan masyarakat. Apalagi penyakit-penyakit tersebut telah endemik di wilayah provinsi ini, yang artinya akan menyebar secara cepat bila terjadi kerusakan lingkungan. 

OPINI :
Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin baru  Bumi Flobamora  yang peduli dengan lingkungan NTT. Pemimpin peduli lingkungan tidak serta merta diterjemahkan sebagai pemimpin yang tidak mengizinkan aktivitas pemanfaatan lingkungan dan alam. Tapi, yang dimaksudkan dengan pemimpin  peduli lingkungan adalah pemimpin yang mampu memperbaiki dan melestarikan lingkungan sehingga tidak menjadi rusak. 
Misalnya, dengan melakukan penghijauan di lahan-lahan kosong. Juga, pemimpin peduli lingkungan adalah pemimpin yang bijak memanfaatkan kekayaan lingkungan (alam) secara wajar untuk kesejahteraan rakyat namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Artinya, lingkungan dan kekayaan alam dapat dimanfaatkan secara bijak dan wajar untuk kesejahteraan rakyat dan aktivitas pemanfaatannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Potensi yang ada dalam lingkungan di NTT harus dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan masyarakat NTT.
Bila demikian yang terjadi, maka pada saat yang sama rakyat sejahtera, lingkungan tetap lestari dan akhirnya dapat  mencegah berkembangnya organisme pembawa virus penyakit yang akan mengancam kehidupan manusia.

 
Pemimpin Bijak Kelola Potensi Lingkungan
 
Penulis : Administrator
Jumat, 26 Oktober 2012 – 12:29:35 WIB
 

WARGA NTT saat ini sedang menyambut pesta demokrasi, yang akan menjaring kader-kader terbaik di Bumi Flobamora untuk menjalankan tongkat estafet kepemimpinan di NTT. 
Dalam konteks demikian, kita mengharapkan lahirnya sosok pemimpin yang mampu menganalisa dan melakukan ‘sesuatu’ untuk menjawab kebutuhan konteks dan riil masyarakat.  Banyak hal yang bisa dijabarkan di sini. Namun dalam tulisan ini, penulis membatasinya pada kebutuhan NTT dan segenap warga NTT pada pemimpin yang peka pada kebutuhan masyarakat dalam budang pelestarian lingkungan hidup dan pemimpin yang mampu menjamin hak-hak masyarakat dalam bidang kesehatan.

Fakta Terprediksi

Fakta munculnya puluhan virus baru dalam beberapa dekade terakhir ini telah diprediksi sebelumnya. Adalah Rene Dubos, seorang ahli mikrobiologi yang telah memprediksi bahwa organisme hidup termasuk organisme pembawa  virus akan terus berkembang dan bermunculan. Alasannya, setiap organisme termasuk organisme pembawa virus hidup akan beradaptasi dengan perubahan lingkungan. Pendapatnya ini terbukti benar. Penyakit yang diakibatkan oleh vektor, misalnya, belum sepenuhnya dapat dihilangkan karena vektor  beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan perlakuan-perlakuan yang diberikan kepadanya. 
Hal yang sama juga diungkapkan oleh Jonatan Patz, salah penerima nobel perdamaian tahun 2007, yang fokus penelitiannya pada lingkungan dan penyakit. Sebagian besar artikel penelitiannya menyoroti tentang lingkungan dan kemungkinan meluasnya penyebaran penyakit-penyakit termasuk penyakit menular.  Bila ditarik benang merah dari setiap artikel penelitianya ditemukan bahwa akar persoalan munculnya dan meluasnya penyakit menular saat ini adalah kerusakan lingkungan. Alasannya, kerusakan lingkungan  akan mempengaruhi hidup organisme pembawa virus atau parasit yang kemudian disebarkan kepada manusia.
Dalam salah satu artikel penelitiannya, dia menegaskan bahwa kerusakan lingkungan, perubahan iklim memperluas penyebaran penyakit yang diakibatkan oleh vektor nyamuk termasuk malaria dan demam berdarah, dua penyakit yang selalu mengancam kehidupan masyarakat NTT. Kerusakan lingkungan yang dimaksud diantaranya perusakan hutan dan penggunaan lahan atau tanah dengan tidak tepat.
Bila kita teliti, pendapat dari Rene Dubos dan Jonatan Patz ini saling melengkapi. Bila organisme dapat beradaptasi dengan perubahan lingkungan sebagaimana pendapat Dubos, maka  organisme hidup termasuk organisme pembawa virus dan parasit tetap dapat bertahan terhadap apapun yang berubah pada lingkungan termasuk rusaknya lingkungan. Terkait hal ini, ada dua kemungkinan. Pertama, ketika lingkungan berubah menjadi tempat ideal bagi organisme, maka adaptasi akan berhasil secara cepat dan organisme akan berkembang secara cepat. Kedua, bila lingkungan menjadi tidak ideal bagi pertumbuhan organisme, adaptasi organisme sangat lambat dan pertumbuhannya juga lambat. Bahkan, terkadang sebagian besar organisme gagal beradaptasi dan akhirnya tidak banyak yang bertahan hidup.  Pada kondisi yang lebih ekstrim organisme tersebut dapat punah.
Terkait dengan organisme pembawa virus dan parasit seperti nyamuk, kerusakan lingkungan mengakibatkan yang terjadi adalah kemungkinan pertama. Artinya, kerusakan lingkungan menjadikan lingkungan menjadi tempat ideal bagi pertumbuhan vektor. Misalnya, penggundulan hutan yang berpengaruh pada kenaikan temperatur lokal yang  akhirnya menstimulasi  pertumbuhan nyamuk. Contoh lain, lingkungan yang kotor dan dipenuhi dengan sampah yang nantinya menjadi tempat tumbuh mikroorganisme pembawa bakteri penyakit yang kemudian terbawa oleh air hujan ke sumber air yang dipakai untuk konsumsi manusia. Akibatnya, penyakit yang diakibatkan oleh air juga bermunculan. 
Masih banyak lagi contoh kerusakan lingkungan lainnya yang mendorong penyebaran penyakit. Ini berarti bahwa kerusakan lingkungan justru akan membawa malapetaka bagi manusia khususnya dalam bidang kesehatan. 
Kita sedang mencari pemimpin provinsi ini lewat pemilihan gubernur dan wakil gubernur yang akan berlangsung tak lama lagi. Sampai pada tahapan pemilihan gubernur yang sedang berlangsung saat ini, visi dan jabaran langkah strategis yang akan dilakukan bila nanti terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur nanti belum sepenuhnya dipaparkan kekhayalak umum.
 Tapi, belajar dari pemilihan Gubernur NTT periode lalu, kesehatan menjadi salah satu produk  yang dijual oleh para kandidat gubernur dan pasti masih akan menjadi produk unggulan untuk dijual kali ini sebab, kesehatan masih menjadi persoalan utama masyarakat. 
Konsep jualan produk kesehatan tersebut sederhana yakni kesehatan gratis atau biaya kesehatan terjangkau, suatu cara yang menyenangkan hati dan memanjakan rakyat.  Disatu sisi ada baiknya namun dilan pihak, konsep yang ditawarkan cenderung bukan pada pencegahan. Padahal, umum telah kita dengar, mencegah  lebih baik daripada mengobati.
Sebagaimana dipaparkan sebelumnya, persoalan kesehatan tidak berdiri sendiri tetapi terkait dengan lingkungan. Lingkungan yang rusak mendorong terjadi dan merebaknya berbagai macam penyakit yang mengancam kehidupan masyarakat. Apalagi penyakit-penyakit tersebut telah endemik di wilayah provinsi ini, yang artinya akan menyebar secara cepat bila terjadi kerusakan lingkungan. 

Peduli Lingkungan
Oleh karena itu, kita membutuhkan pemimpin baru  Bumi Flobamora  yang peduli dengan lingkungan NTT. Pemimpin peduli lingkungan tidak serta merta diterjemahkan sebagai pemimpin yang tidak mengizinkan aktivitas pemanfaatan lingkungan dan alam. Tapi, yang dimaksudkan dengan pemimpin  peduli lingkungan adalah pemimpin yang mampu memperbaiki dan melestarikan lingkungan sehingga tidak menjadi rusak. 
Misalnya, dengan melakukan penghijauan di lahan-lahan kosong. Juga, pemimpin peduli lingkungan adalah pemimpin yang bijak memanfaatkan kekayaan lingkungan (alam) secara wajar untuk kesejahteraan rakyat namun tetap memperhatikan kelestarian lingkungan. Artinya, lingkungan dan kekayaan alam dapat dimanfaatkan secara bijak dan wajar untuk kesejahteraan rakyat dan aktivitas pemanfaatannya tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Potensi yang ada dalam lingkungan di NTT harus dimanfaatkan optimal untuk kesejahteraan masyarakat NTT.
Bila demikian yang terjadi, maka pada saat yang sama rakyat sejahtera, lingkungan tetap lestari dan akhirnya dapat  mencegah berkembangnya organisme pembawa virus penyakit yang akan mengancam kehidupan manusia.

nama : and muhammad adha, kelas : 1ka02, nmp : 10112765

22 Okt

<a href="nama : and muhammad adha, kelas : 1ka02, nmp : 10112765

                                           PENGANGGURAN INTELEKTUAL

Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari tahun 2011 menyebutkan bahwa pengangguran di Indonesia mencapai 8.12 juta orang. Sementera pada Agustus tahun 2010 mencapai 8.32 juta orang atau 7.14%. Jika dirinci, 11.92% adalah pengangguran lulusan sarjana dan 12.78% pengangguran lulusan diploma. Dari data tersebut menunjukkan bahwa ada sekitar 967.904 orang dengan predikat sarjana menjadi pengangguran terbuka atau benar-benar tidak bekerja.

 

Mengapa pengangguran intelektual di Indonesia jumlahnya begitu fantastis? Paling tidak, terdapat tiga faktor umum. Pertama, karena kebijakan pendidikan yang tidak berorientasi pada kebutuhan pasar. Kedua, karena kebijakan ekonomi khususnya investasi yang tidak mampu menyediakan lapangan kerja sesuai dengan jumlah angkatan kerja. Ketiga, karena kebijakan pembangunan ekonomi yang cenderung berorientasi pada padat modal ketimbang pada padat karya.

Selain itu, faktor khusus yang tak kalah penting adalah karena metode pembelajaran perguruan tinggi (PT) di Tanah Air belum mengacu pada pendidikan orang dewasa. Ciri pendidikan orang dewasa adalah mengutamakan penggalian, pendalaman, pengembangan, bukan sekadar menghafal.

 

Meminjam istilah Russel (1984), pendidikan orang dewasa adalah suatu pendidikan yang mensyaratkan bahan ajar yang mencakup konsep baru, orientasi individual, berbentuk self instructional, dan volume belajar bergantung pada kemampuan mahasiswa. Konsepnya, para sarjana diproyeksikan tidak hanya menangkap informasi, tetapi mencari informasi, tidak hanya mampu menerima ilmu pengetahuan, tetapi harus menemukan ilmu pengetahuan.

 

Alhasil, para sarjana dituntut tidak hanya mampu menjawab persoalan dirinya sendiri, tetapi juga bangsanya, seperti meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan malah menjadi beban masyarakat. Banyaknya penganggur dengan status ‘sarjana’ di Indonesia menandakan bahwa kondisi dan kualitas sarjana kita sangat berbeda jauh dengan kondisi dan kualitas para sarjana di negara-negara lain.

 

Studi yang dilakukan Denison (1962), misalnya, menyebutkan bahwa jumlah lulusan perguruan tinggi di Amerika Serikat, selama kurun 1929-1957 mampu meningkatkan pendapatan per kapita di negara itu sekitar 42%. Begitu halnya kelulusan perguruan tinggi di Jepang dalam kurun waktu 1961-1971 mampu meningkatkan pendapatan per kapita per tahun sebesar 0,35%.

 

Tumbuhkan Kreativitas

Seperti dikatakan banyak kalangan, terdapat dua langkah strategis untuk mengatasi problem ‘kesarjanaan’ di negeri ini, yakni dengan merekonstruksi atau melakukan menataan ulang sistem pendidikan nasional dan mengubah mindset (pola pikir) mahasiswa itu sendiri. Harus diakui, kurang berhasilnya perguruan tinggi (PT) dalam menumbuhkan kreativitas mahasiswa sangat terkait dengan sistem atau metode pembelajaran yang selama ini telah berjalan.

 

Jenjang pendidikan sarjana Indonesia kurang menyentuh pelajaran khusus mengenai aspek logic dan critical thinking yang menjadi syarat semua pendidikan bidang kesarjanaan di dunia. Pembelajaran orang dewasa tidak dilakukan sehingga yang terjadi adalah para siswa dan mahasiswa belajar hanya untuk menjawab materi soal ujian semata tanpa memahami substansinya. Mereka cenderung belajar menghafal teks sehingga pemahaman yang didapat cenderung parsial, bukan belajar secara konteks dan ke akar permasalahan sehingga pemahaman yang didapat secara mendalam.

 

Sebagai contoh, Departemen Kesehatan (Depkes) dulu dilaorkan pernah mengirim 2.000 perawat ke Belanda namun gagal karena setelah dites dalam 3 bulan rata-rata tidak layak untuk dipekerjakan. Demikian pula dengan kontrak Depkes untuk mengirim tenaga dokter ke Kuwait sebanyak 600 orang, konon, kesemuanya dipulangkan hanya dalam waktu 2 bulan karena tidak satu pun dokter Indonesia yang memenuhi standar.

 

Kondisi inilah yang oleh Rektor Institute Teknologi Bandung (ITB), Prof Dr Djoko Santoso disebut sebagai fenomena ‘sarjana kertas’. Bukan dalam pengertian sarjana yang ahli membuat kertas, tetapi sarjana yang lulus hanya karena ijazah tanpa disertai kemampuan sesuai dengan bidang yang ditekuninya di perguruan tinggi tempat ia belajar.

 

Celakanya, kondisi ini diperparah dengan pola pikir mahasiswa kebanyakan yang menempuh studi cenderung hanya berorientasi pada mencari ijazah, cepat lulus, dan cepat mendapatkan pekerjaan, bahkan berlomba-lomba ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Artinya, hanya sedikit sekali mahasiswa yang berpikir bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan. Apalagi, kini banyak ditemukan kampus-kampus ‘siluman’ yang kerap memperjualbellikan ijazah. Dengan modal hanya Rp 10 juta, mereka sudah bisa mendapatkan gelar sarjana.

 

 

OPINI :

Untuk itu, fenomena ini harus kita baca sebagai otokritik untuk membenahi kondisi ‘kesarjanaan’ kita. Dengan kata lain, sudah saatnya kita harus berbenah diri. Peran pemerintah dan pihak swasta penting dalam rangka penyediaan lapangan pekerjaan. Tetapi ‘menggodok’ kualitas sarjana supaya mampu berinovasi dan berkompetisi, serta berorientasi menciptakan lapangan pekerjaan juga jauh lebih penting. Hanya dengan begitu, persoalan ‘pengangguran intelektual’ akan dapat diatasi.

Taut

NAMA : ANDI MUHAMMAD ADHA KELAS : 1KA02 NPM : 10112765

9 Okt

NAMA : ANDI MUHAMMAD ADHA KELAS : 1KA02 NPM : 10112765

 
BAHAYA MEROKOK ! — Jauhi Merokok 
 
 
Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa merokok selain menyebabkan kecanduan juga menyebabkan banyak gangguan kesehatan, seperti kanker, impotensi, penyakit jantung, penyakit pernafasan, penyakit pencemaran, ginjal efek buruk bagi kehamilan dan janin, dan masih banyak lagi.

Bila melihat sejarahnya, merokok untuk pertama kalinya dilakukan oleh suku bangsa Indian di Amerika. Merokok oleh bangsa Indian dilakukan untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Selanjutnya pada abad ke 16, Ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kebiasaan merokok kemudian mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tetapi, berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan. Sampai akhirnya pada abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam.

Racun pada Rokok

Dalam sebatang rokok terkandung sekitar 4000 macam zat kimia. Zat kimia yang dikeluarkan ini terdiri dari komponen gas (85 persen) dan partikel. Nikotin, gas karbonmonoksida, nitrogen oksida, hidrogen sianida, amoniak, akrolein, asetilen, benzaldehid, urethan, benzen, methanol, kumarin, 4-etilkatekol, ortokresol dan perylene adalah sebagian dari beribu-ribu zat di dalam rokok.

Dari sekitar 4000 macam zat kimia yang ada dalam rokok , setidaknya 200 diantaranya dinyatakan berbahaya bagi kesehatan manusia. Racun utama pada rokok adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida.

  • Tar adalah substansi hidrokarbon yang bersifat lengket dan menempel pada paru-paru.
  • Nikotin adalah zat adiktif yang mempengaruhi syaraf dan peredaran darah. Zat ini bersifat karsinogen, dan mampu memicu kanker paru-paru yang mematikan.
  • Karbon monoksida adalah zat yang mengikat hemoglobin dalam darah, membuat darah tidak mampu mengikat oksigen.

Efek Racun

Efek racun pada rokok ini membuat pengisap asap rokok mengalami resiko (dibanding yang tidak mengisap asap rokok):

Merokok merupakan penyebab utama dari sekitar 90% kasus kanker paru-paru pada pria dan sekitar 70% pada wanita. Semakin banyak rokok yang dihisap, semakin besar resiko untuk menderita kanker paru-paru.

 

Rokok juga meningkatkan resiko kefatalan bagi penderita pneumonia dan gagal jantung,serta tekanan darah tinggi.

 

OPINI : merokok itu dapat menyebabkan gangguan kesehatan diantara’a penyakit pada pernafasan, penyakit pada alat reproduksi dan gangguan lainnya, jadi tinggalkan lah rokok karena rokok dapat mebahayakan diri sendiri mau pun orang lain.

Taut

Nama : andi muhammad adha, Kelas : 1ka02

2 Okt

Nama : andi muhammad adha, Kelas : 1ka02

 

Masalah Pengangguran dan Kemiskinan

 

Pengangguran dan kemiskinan merupakan momok di banyak negara, termasuk negaramaju seperti Amerika Serikat (AS) sekalipun. Ternyata tercatat 15 juta tenaga kerja atausekitar 8 persen lebih menganggur. Apalagi, di negara-negara berkembang sepertiIndonesia.Pemerintah sendiri selama ini selalu memfokuskan program pembangunannya padapenanganan kedua masalah ini. Hasilnya memang belum sepenuhnya memuaskanberbagai pihak meski indikator-indikator sosial yang ada telah menunjukkanperbaikan dalam pengurangan tingkat pengangguran dan kemiskinan.Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Indonesia pada Juni2010 sebesar 234,2 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 1,33 persen per tahun. Dari jumlah itu, jumlah angkatan kerja kini mencapai 116 juta orang. Sebanyak 107,41 juta orang adalah penduduk yang bekerja. Sedangkan jumlah penganggur sebanyak8,59 juta orang atau penganggur terbuka sebesar 7,41 persen. Memang itumengalami penurunan apabila dibanding 2009 yang sebesar 8,14 persen. Pendudukmiskin tahun 2010 berjumlah 31,02 juta orang atau sebesar 13,33 persen,mengalami penurunan 1,51 juta jiwa dibandingkan dengan tahun 2009 (sebanyak32,53 juta) atau 14,15 persen.Banyak kalangan menginginkan percepatan dan keseriusan penanganan masalahpengangguran dan kemiskinan ini. Sebab, pada hakikatnya, hasil-hasil pembangunandiperuntukkan bagi manusia itu sendiri, termasuk rakyat miskin dan parapenganggur. Tidak ada seorang pun menginginkan menjadi miskin ataumenganggur. Logikanya, apabila kemiskinan dan pengangguran akan dikurangidengan drastis, tentu anggaran untuk itu pun mesti ditambah-hubungan yangberbanding terbalik.Oleh karena itu, jika perlu, pemerintah dapat memplot anggaran pendapatan danbelanja negara (APBN) khusus untuk pengentasan kemiskinan dan pengangguran,sebagaimana pemerintah memplot 20 persen APBN-nya untuk sektor pendidikan. Disisi lain, pemerintah dapat juga meningkatkan stimulus fiskalnya khusus untukmengurangi atau mengentaskan kemiskinan dan pengangguran.Memang, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014,tersurat pemerintah akan terus melanjutkan tiga strategi pembangunan ekonomi,yaitu pro growth, pro job dan pro poor. Termasuk di dalamnya mewujudkanpertumbuhan disertai pemerataan (growth with equity). Ketiga strategi itudiharapkan sebagai pendorong percepatan laju pertumbuhan ekonomi yang dapatmemberikan lebih banyak kesempatan kerja. Dengan demikian, makin banyakkeluarga Indonesia dapat menikmati hasil-hasil pembangunan dan dapat keluar darikemiskinan.Prioritas pembangunan nasional yang dijabarkan dalam RPJM 2010-2014 terdapat 11butir, antara lain penanggulangan kemiskinan serta peningkatan kesejahteraanrakyat. Yang disebut terakhir menuntut tidak hanya pertumbuhan ekonomi tinggi,namun juga pertumbuhan ekonomi berkualitas (inklusif) dan berkeadilan. Tantanganutama pembangunan ke depan tentu menciptakan pertumbuhan ekonomi yangberkeadilan, yang mampu menciptakan lapangan kerja dan mengurangi kemiskinan.Bagaimanapun, pembangunan ekonomi yang pro growth, pro job, dan pro poor perluterus dilaksanakan. Cara yang ditempuh adalah dengan memperluas cakupan

 

program pembangunan berbasis masyarakat, serta meningkatkan akses masyarakatmiskin terhadap pelayanan dasar seperti pendidikan, kesehatan, air bersih, dan jugalembaga keuangan. Komitmen ini hendaknya tidak sebatas rencana dan wacana,namun benar-benar harus dapat direalisasikan dan diimplementasikan.Sebenarnya, kondisi perekonomian dunia yang terus membaik sebagai akibat krisisfinansial global mempunyai pengaruh terhadap kinerja perekonomian domestik. Initerindikasi dari meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi. Dengan dukungankebijakan pemerintah yang ekspansif, peningkatan laju pertumbuhan ekonomiseharusnya dapat memperluas terciptanya lapangan kerja baru.Sejak 2005, rata-rata setiap satu persen pertumbuhan ekonomi dapat menyeraptenaga kerja baru sekitar 400.000 orang. Penyerapan tenaga kerja ini diperkirakanmakin meningkat sejalan dengan programa dan kebijakan pemerintah dalammeningkatkan investasi melalui perbaikan infrastruktur dan berbagai kebijakanlainnya.Implementasi program-program ini terus dilakukan untuk memberikan akses yanglebih luas kepada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, agar dapatmenikmati hasil-hasil pembangunan. Dilanjutkannya berbagai langkah antara lainmelalui pemberian subsidi, bantuan sosial, program keluarga harapan (PKH), PNPMMandiri, dan dana penjaminan kredit/pembiayaan bagi usaha mikro, kecil, menengah(UMKM) dan koperasi melalui program kredit usaha rakyat (KUR). Program ini,apabila dilaksanakan dengan benar dan tepat sasaran, dapat membantu pemenuhankebutuhan dasar masyarakat yang tidak atau belum mampu dipenuhi darikemampuan mereka sendiri.Jika target pertumbuhan ekonomi berkisar 5,3 persen tahun 2010, diperkirakanpertumbuhan lapangan kerja baru akan tercapai lebih dari 2 persen. Sementara itu, jumlah penduduk yang masuk angkatan kerja setiap tahun diperkirakan jugameningkat rata-rata sebesar 1,76 persen. Tentu saja peningkatan lapangan kerjabaru yang lebih tinggi dibanding pertumbuhan angkatan kerja akan berdampak padamakin menurunnya tingkat pengangguran.Selama ini tingkat pengangguran menurun karena didukung makin tingginyaangkatan kerja yang bekerja di luar negeri sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).Pada awal tahun 2010 tingkat pengangguran terbuka diperkirakan berada padakisaran 7,41 persen.Demikian pula tingkat kemiskinan tahun 2010, diharapkan terus mengalamipenurunan. Tercatat jumlah penduduk miskin awal 2010 sebesar 31,02 juta orangatau sebesar 13,33 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Di antaranya di daerahpedesaan, penduduk miskin berkurang 0,69 juta orang, dari 20,62 juta menjadi19,93 juta. Sedangkan di daerah perkotaan berkurang 0,81 juta orang dari 11,91 juta menjadi 11,10 juta orang.Berbagai program dan upaya harus terus dilaksanakan pemerintah, seperti perluasankesempatan kerja, pemberian subsidi, bantuan sosial dan lain-lain. Ini penting untukmenurunkan tingkat kemiskinan tahun 2010 yang berada pada kisaran 12-13,5persen. Begitu juga untuk menciptakan pembangunan ekonomi berkualitas danberkeadilan, berbagai langkah perlu dilakukan untuk menciptakan lapangan kerjadan mengurangi kemiskinan. Tentu untuk merealisasikannya diperlukanpenyempurnaan peraturan mengenai ketenagakerjaan, pelaksanaan negosiasitripartit, serta penyusunan standar kompetensi, penempatan, perlindungan, danpembiayaan tenaga kerja ke luar negeri. 

 

opini : seharus’nya pemerintah mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan harus dengan serius . pemerintah harus membangun lapangan pekerjaan yang memadai ,dan mereka harus di latih di balai latihan kerja supaya mereka punya kualitas dan kuantitas ,sehingga mereka dapat bekerja dengan baik dan mereka tidak mengalami kemiskinan.